Rabu, 15 Agustus 2012

BAB IV PENINGGALAN ZAMAN PRASEJARAH


BAB IV PENINGGALAN ZAMAN PRASEJARAH

Ø  Standar Kompetensi          : Memahami Lingkungan Kehidupan Manusia
Ø  Kompetensi dasar             : Menjelaskan Kehidupan Pada Masa Prasejarah di Indonesia
Ø  Alokasi Waktu                  : 4 X 40 menit

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:
·           mengklasifikasikan pembagian zaman prasejarah berdasarkan peninggalannya;
·           mendeskripsikan peninggalan zaman batu;
·           mendeskripsikan peninggalan zaman logam;
====================================================================================
Pendalaman Materi/Konsep
Berdasarkan benda-benda peninggalan yang ditemukan, masa prasejarah dibagi menjadi:
1.         Zaman Batu
       yaitu zaman ketika manusia mulai mengenal alat-alat yang terbuat dari batu. Pada zaman ini, bukan berarti alat-alat dari kayu atau bambu tidak dibuat. Alat yang terbuat dari bahan kayu atau bambu mudah rapuh, tidak tahan lama seperti dari batu, bekas-bekas peninggalannya tidak ada lagi.  Ciri-ciri zaman batu, yaitu :
1)         Dimulai kurang lebih pada tahun 590.000 SM.
2)         Peralatan yang digunakan masyarakatnya masih menggunakan bahan dari batu.
3)         Alat dari batu ini digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan binatang buas, mencari dan mengolah makanan.
4)         Selain batu, digunakan juga peralatan dari kayu, tetapi tidak ada bekasnya karena lapuk dan tidak tahan lama.
5)        Pola pikir manusia masih sangat sederhana
Zaman batu ini dibagi lagi atas beberapa periode, yaitu:
a.                   Zaman batu tua (Palaeolithikum);
b.                  Zaman batu tengah (Mesolithikum);
c.                   Zaman batu muda (Neolithikum);
d.                  Zaman batu besar (Megalithikum).

2.         Zaman logam
       yaitu zaman sewaktu manusia sudah mampu membuat alat-alat perlengkapan hidupnya dari logam. Teknik pembuatan alat-alat dari logam ini dengan cara melebur terlebih dahulu bijih-bijih logam yang nanti dituangkan dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Dengan demikian, zaman logam ini tingkat kehidupan manusia sudah lebih tinggi daripada zaman batu. Ciri-ciri zaman logam, yaitu :
1)       Manusia yang hidup pada zaman ini, sudah mulai bertempat tinggal dengan menetap.
2)       Perlalatan yang digunakan masyarakat sudah mulai beralih ke bahan-bahan yang terbuat dari logam.
3)       Mata pencaharian tidak hanya dari pertanian, tetapi juga melalui usaha perdagangan (jual beli alat dari logam).
4)       Pola pikir masyarakatnya mengalami kemajuan dengan bukti bahwa mereka sudah menyentuh nilai-nilai keagamaan, yaitu melakukan ritual tradisi memuja roh nenek moyang.
5)      Memeiliki kemampuan tambahan yaitu berlayar dengan menggunakan perahu cadik.
 Zaman logam dibagi atas:
a.     zaman tembaga,
b.    zaman perunggu, dan
c.     zaman besi.

A.       Hasil Kebudayaan zaman Batu
Pada zaman batu peralatan hidup manusia purba terbuat dari batu. Berdasarkan perkembangannya zaman batu dapat dapat dikelompokan menjadi empat yaitu :

1.        Zaman Batu Tua (Palaeolithikum)
Paleolithikum berasal dari kata Palaeo artinya tua, dan Lithos yang artinya batu sehingga zaman ini disebut zaman batu tua. Hasil kebudayaannya banyak ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong Jawa Timur. Para arkeolog sepakat untuk membedakan temuan benda-benda prasejarah di kedua tempat tersebut, yaitu sebagai kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.
 Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kurang lebih 600.000 tahun silam. Kehidupan manusia masih sangat sederhana, hidup berpindah-pindah (nomaden), dan bergantung pada alam. Mereka memperoleh makanan dengan cara berburu, mengumpulkan buahbuahan, umbi-umbian, serta menangkap ikan. Cara hidup seperti ini dinamakan food gathering.
Jenis peralatan yang digunakan pada zaman batu tua terbuat dari batu yang masih kasar, seperti kapak genggam (chopper), kapak penetak (chopping tool), peralatan dari tulang dan tanduk binatang, serta alat serpih (flake) yang digunakan untuk menguliti hewan buruan, mengiris daging, atau memotong umbi-umbian.

Gambar Alat Pacitan dari berbagai sisi.

2.        Zaman Batu Pertengahan/Madya (Mesolithikum)
Mesolithikum berasal dari kata Meso yang artinya tengah dan Lithos yang artinya batu sehingga zaman ini dapat disebut zaman batu tengah.
Zaman batu pertengahan diperkirakan berlangsung kurang lebih 20.000 tahun silam. Pada zaman ini, kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan zaman batu tua, yaitu berburu, mengumpulkan makanan, dan menangkap ikan. Mereka juga sudah mulai hidup menetap di gua, tepi sungai, atau tepi pantai.
Alat-alat perkakas yang digunakan pada masa Mesolithikum hampir sama dengan alat-alat pada zaman Palaeolithikum, hanya sudah sedikit dihaluskan. Peralatan yang dihasilkan pada zaman Mesolithikum, antara lain kapak Sumatra (pebble), sejenis kapak genggam yang dibuat dari batu kali yang salah satu sisinya masih alami; kapak pendek (hache courte), sejenis kapak genggam dengan ukuran
yang lebih kecil; pipisan, batu-batu penggiling beserta landasannya; alat-alat dari tanduk dan tulang binatang; mata panah dari batu dan juga flake.
Adapun hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan manusia purba pada zaman batu pertengahan adalah sebagai berikut :
1)        Peradaban abris sous roche (abris = tinggal, sous = dalam, roche = gua), yaitu peradaban ketika manusia purba menjadikan gua-gua sebagai tempat tinggal. Hasil kebudayaannya adalah Kebudayaan Sampung Bone di Gua Lawa, dekat Sampung Ponorogo, Jawa Timur, berupa tulang manusia jenis Papua Melanesoid, flakes, alat-alat dari tulang, dan tanduk rusa yang ditemukan pada 1928–1931 oleh van Stein Callenfels dan Kebudayaan Toala di Lamoncong, Sulawesi Selatan. Hasil kebudayaan ini adalah lukisan yang terdapat di dinding gua, seperti lukisan manusia, cap tangan, dan binatang yang ditemukan di Gua Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, dan Danau Sentani Papua.
2)        Manusia purba yang tinggal di sepanjang pantai pada zaman Mesolithikum telah memiliki kemampuan membuat rumah panggung sederhana. Kehidupan manusia purba ini menghasil kan tumpukan sampah berupa kulit siput dan kerang di bawah rumah mereka yang disebut kjokken moddinger (kjokken = dapur, moddinger = sampah). Sampah dapur ini banyak ditemukan di daerah pantai timur Sumatra antara Langsa sampai Medan.
3)        Peninggalan berupa kapak Sumatra dan kapak pendek di Indonesia sama dengan peninggalan kebudayaan yang ditemukan di Pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, Tonkin,Yunan Selatan. Para ahli menyimpulkan bahwa di Tonkin terdapat pusat kebudayaan pra-aksara Asia Tenggara yang kemudian diberi nama Kebudayaan Bacson-Hoabinh.

Gambar Pebble.

3.        Zaman Batu Muda (Neolithikum)
Neolithikum berasal dari kata Neo yang artinya baru dan Lithos yang artinya batu. Neolithikum berarti zaman batu baru/muda. Pada zaman batu baru/ muda, kehidupan manusia purba sudah berangsur-angsur hidup menetap tidak lagi berpindah-pindah. Manusia pada zaman ini sudah mulai mengenal cara bercocok tanam meskipun masih sangat sederhana, selain kegiatan berburu yang masih tetap dilakukan. Manusia purba pada masa neolithikum sudah bisa menghasilkan bahan makanan sendiri atau biasa disebut food producing.
Peralatan yang digunakan pada masa neolithikum sudah diasah sampai halus, bahkan ada peralatan yang bentuknya sangat indah. Peralatan yang diasah pada masa itu adalah kapak lonjong dan kapak persegi. Di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ada yang telah membuat mata panah dan mata tombak yang digunakan untuk berburu dan keperluan lainnya.
Perkembangan penting pada zaman batu muda adalah banyak ditemukannya kapak lonjong dan kapak persegi dengan daerah temuan yang berbeda. Kapak persegi banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Barat, seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara. Adapun kapak lonjong banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Timur, seperti Sulawesi, Halmahera, Maluku, dan Papua.
Perbedaan daerah temuan kapak persegi dan kapak lonjong tersebut diperkirakan karena daerah penyebaran kapak persegi dan kapak lonjong bersamaan dengan persebaran bangsa Austronesia, sebagai nenek moyang bangsa Indonesia yang datang sekitar 2000 SM.

Gambar Peninggalan zaman Neolithikum.
Sumber: www.wikipedia.org
4.        Zaman Batu Besar (Megalithikum)
Megalithikum berasal dari kata megalith dalam bahasa yunani. Kata itu tersusun atas kata mega dan lithos, mega berarti besar, dan lithos berarti batu. Jadi megalithikum dapat berarti bangunan yang dibuat dari batu besar. Zaman batu besar diperkirakan berkembang sejak zaman batu muda sampai zaman logam. Ciri
utama pada zaman megalithikum adalah manusia yang hidup pada zamannya sudah mampu membuat bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu. Banyak terdapat bangunan-bangunan besar terbuat dari batu ditemukan khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan mereka seperti sarkofagus, kubur batu, punden berundak, arca, menhir, dan dolmen.
Berikut merupakan hasil kebudayaan Megalithikum beserta ciri dan fungsinya serta tempat ditemukannya.
1)        Sarkofagus adalah bangunan batu besar yang dipahat menyerupai mangkuk, yakni terdiri atas dua keping yang ditangkupkan menjadi sepasang (satu sisi untuk bagian bawah dan sisi lain sebagai penutupnya). Sarkofagus berfungsi sebagai peti jenasah. Banyak ditemukan di daerah Bali.
2)        Menhir adalah bangunan berupa tiang atau tugu batu yang berfungsi sebagai tanda peringatan dan melambangkan kehormatan terhadap arwah nenek moyang. Adapun tempat ditemukannya di Paseman Sumatra Selatan dan Sulawesi Tengah.
3)        Dolmen adalah bangunan berupa meja batu yang berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji dalam pemujaan terhadap roh nenek moyang. Adapun tempat ditemukannya di Cipari Kuningan, Pasemah dan Nusa Tenggara.
4)        Punden berundak-undak adalah  bangunan berupa susunan batu bertingkat yang menyerupai bangunan candi, yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Ditemukan di Lebak Sibedug dan Bukit Hyang Jawa Timur.
5)        Arca Batu adalah bangunan berupa patung manusia dan binatang yang berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang disukai, ditemukan di daerah Lampung, Pasemah, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
6)        Pandhusa, benda ini berupa meja batu yang kakinya tertutup rapat berfungsi sebagai kuburan, ditemukan di Bondowoso dan Besuki Jawa Timur.
7)        Kubur batu adalah peti yang terbuat dari batu berbentuk kotak persegi panjang, yang berfungsi sebagai tempat menyimpan jenazah. Kubur batu banyak ditemukan di Bali, Pasemah (Sumatra Selatan), Wonosari (Yogyakarta), Cepu (Jawa Tengah), dan Cirebon (Jawa Barat).
8)        Waruga, yaitu kubur batu berbentuk kubus atau bulat yang terbuat dari batu besar yang utuh. Waruga banyak ditemukan di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
9)        Arca atau patung, yaitu bangunan batu berupa binatang atau manusia yang melambangkan nenek moyang dan menjadi pujaan. Peninggalan ini banyak ditemukan di Pasemah (Sumatra Selatan) dan lembah Bada Lahat (Sulawesi Selatan).

B.       Hasil Kebudayaan Zaman Logam
Kebuadayaan manusia purba pada zaman logam sudah jauh lebih tinggi atau lebih maju jika dibandingkan dengan kebudayaan manusia purba pada zaman batu. Pada zaman logam manusia purba sudah memiliki kemampuan melebur logam untuk membuat alat-alat yang dibutuhkan.  Kebudayaan zaman logam dapat dibagi menjadi tiga zaman yaitu zaman perunggu, zaman tembaga, dan zaman besi.



1.        Zaman perunggu
Di Indonesia tradisi logam dimulai beberapa abad sebelum masehi. Tradisi membuat alat-alat dari perunggu merupakan ciri khas pada masa perundagian. Adapun alat-alat dari zaman perunggu antara lain nekara, moko, kapak corong, perhiasan perunggu, arca atau patung perunggu, dan manik-manik.
a.        Nekara
Nekara dapat juga disebut Genderang Nobat atau Genderang Ketel karena bentuknya semacam berumbung. Terbuat dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya, dan sisi atasnya tertutup. Bagi masyarakat prasejarah, nekara dianggap sesuatu yang suci. Di daerah asalnya, Dongson, pemilikan nekara merupakan simbol status, sehingga apabila pemiliknya meninggal, dibuatlah nekara tiruan yang kecil yang dipakai sebagai bekal kubur. Di Indonesia nekara hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, antara lain ditabuh untuk memanggil roh nenek moyang, dipakai sebagai genderang perang, dan dipakai sebagai alat memanggil hujan. Daerah penemuan nekara di Indonesia antara lain, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Roti, dan Pulau Kei serta Pulau Selayar, Pulau Bali, Pulau Sumbawa, Pulau Sangean. Nekara-nekara yang ditemukan di Indonesia, biasanya beraneka ragam sehingga melalui hiasan-hiasan tersebut dapat diketahui gambaran kehidupan dan kebudayaan yang ada pada masyarakat prasejarah. Nekara yang ditemukan di Indonesia ukurannya besar-besar. Contoh nekara yang ditemukan di Desa Intaran daerah Pejeng Bali, memiliki ketinggian 1,86 meter dengan garis tengahnya 1,60 meter. Nekara tersebut dianggap suci sehingga ditempatkan di Pure Penataran Sasih. Dalam bahasa Bali sasih artinya bulan, maka nekara tersebut dinamakan nekara Bulan Pejeng.
Gambar Nekara & Moko.
b.        Moko
Merupakan genderang kecil yang terbuat dari perunggu. Bangunan ini berguna untuk alat upacara atau sebagai mas kawin. Daerah penemuan moko ini adalah di Alor.

c.          Kapak Corong
Kapak corong disebut juga kapak sepatu karena seolah-olah kapak disamakan dengan sepatu dan tangkai kayunya disamakan dengan kaki. Bentuk bagian tajamnya kapak corong tidak jauh berbeda dengan kapak batu, hanya bagian tangkainya yang berbentuk corong. Corong tersebut dipakai untuk tempat tangkai kayu. Bentuk kapak corong sangat beragam jenisnya. Salah satunya ada yang panjang satu sisinya yang disebut dengan candrosa, bentuknya sangat indah dan dilengkapi dengan hiasan.
Gambar  Berbagai bentuk Candrasa.



d.        Bejana perunggu
Bejana perunggu ditemukan di tepi Danau Kerinci Sumatra dan Madura, bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng. Kedua bejana yang ditemukan mempunyai hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf J.
Gambar Bejana Perunggu dari Kerinci (Sumatra).Sumber: www.wikipedia.org

e.          Arca-arca perunggu
Arca perunggu yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk bervariasi, ada yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang. Pada umumnya, arca perunggu bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya. Adapun fungsi dari cincin tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu yang kecil dipergunakan sebagai bandul kalung. Daerah penemuan arca perunggu di Indonesia adalah Palembang Sumsel, Limbangan Bogor, dan Bangkinang Riau.
Gambar Arca Perunggu

f.          Perhiasan perunggu
Perhiasan dari perunggu yang ditemukan sangat beragam bentuknya, yaitu seperti kalung, gelang tangan dan kaki, bandul kalung dan cincin. Di antara bentuk perhiasan tersebut terdapat cincin yang ukurannya kecil sekali, bahkan lebih kecil dari lingkaran jari anak-anak. Untuk itu, para ahli menduga fungsinya sebagai alat tukar. Perhiasan perunggu ditemukan di Malang, Bali, dan Bogor.
Gambar Aneka Ragam Perhiasan dari Perunggu.
Sumber: Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia 1, halaman 433)











g.        Manik-manik
Manik-manik yang berasal dari zaman perunggu ditemukan dalam jumlah yang besar sebagai bekal kubur sehingga memberikan corak istimewa pada zaman perunggu.


Gambar Manik-Manik
2.        Zaman tembaga
Di Indonesia tidak mengalami zaman tembaga. Hal ini terlihat dari tidak diketemukannya barang-barang peninggalan yang terbuat dari tembaga.

3.        Zaman besi
Zaman besi adalah zaman ketika orang telah dapat melebur besi dari bijihnya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Oleh karena membutuhkan suhu yang sangat panas untuk melebur bijih besi, maka alat-alat yang dihasilkan pun lebih sempurna. Teknik pembuatan alat yang terbuat dari logam dapat dikategorikan menjadi dua cara sebagai berikut.
1)      A cire perdue atau cetakan lilin, caranya yaitu membuat bentuk benda yang dikehendaki dengan lilin. Setelah membuat model dari lilin, maka ditutup dengan menggunakan tanah, dan dibuat lubang dari atas dan bawah. Setelah itu, dibakar sehingga lilin yang terbungkus dengan tanah akan mencair, dan keluar melalui lubang bagian bawah. Lubang bagian atas dimasukkan cairan perunggu, dan apabila sudah dingin, cetakan tersebut dipecah sehingga keluarlah benda yang dikehendaki.
2)      Bivalve atau setangkup, caranya yaitu menggunakan cetakan yang ditungkupkan dan dapat dibuka, sehingga setelah dingin cetakan tersebut dapat dibuka, maka keluarlah benda yang dikehendaki, cetakan tersebut biasanya terbuat dari batu atau kayu.
Benda-benda yang diketemukan dimasa ini tidak begitu banyak karena mungkin alat-alat tersebut telah berkarat sehingga hancur. Kemungkinan alat-alat tersebut dikubur bersma dengan orang atau pemiliknya yang telah meninggal. Adapun alat-alat dari tradisi besi yang banyak diketemukan antara lain, mata kapak, mata pisau, mata sabit, mata pedang, cangkul, tongkat dan gelang besi. Daerah ditemukannya alat-alat ini adalah Bogor, Wanasari, Ponorogo, dan Besuki. Zaman besi menandakan zaman terakhir dari zaman prasejarah.

TUGAS
Buatlah kliping tentang bukti-bukti zaman prasejarah, manfaatkanlah fasilitas internet dan berikan komentar dari setiap lembaran kliping yang kamu kumpulkan, diskusikan dengan kelompok belajarmu tentang upaya menjaga barang-barang peninggalan zaman prasejarah. Laporkan kepada guru IPS-Sejarah di sekolahmu!

1 komentar:

  1. Makasih ya sob infonya udah share, sangat bermanfaat sekali ...................



    bisnistiket.co.id

    BalasHapus