Rabu, 15 Agustus 2012

BAB II JENIS-JENIS MANUSIA PRASEJARAH


BAB II JENIS-JENIS MANUSIA PRASEJARAH
Ø  Standar Kompetensi          : Memahami Lingkungan Kehidupan Manusia
Ø  Kompetensi dasar             : Menjelaskan Kehidupan Pada Masa Prasejarah di Indonesia
Ø  Alokasi Waktu                  : 2 X 40 menit

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:
·           Menjelaskan penemuan fosil manusia prasejarah;
·           Mengidentifikasikan manusia zaman prasejarah di Indonesia;
·            Mengidentifikasikan manusia zaman prasejarah di Asia, Afrika, dan Eropa

Pendalaman Materi/Konsep
Jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia memiliki usia yang sudah tua, hampir sama dengan penemuan manusia purba di negara-negara lainnya di dunia. Bahkan Indonesia dapat dikatakan mewakili penemuan manusia purba di daratan Asia. Daerah penemuan manusia purba di Indonesia tersebar di be­berapa tempat, khususnya di Jawa. Penelitian tentang manusia purba di Indonesia telah lama dilakukan. Para peneliti itu antara lain: Eugene Dubois, G.H.R Von Koenigswald, dan Franz Wedenreich. Berikut ini jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia.

A.        Manusia Prasejarah di Indonesia
1.         Pithecanthropus erectus (Manusia kera yang berjalan tegak)
Jenis manusia ini ditemukan oleh seorang dokter dari Belanda bernama Eugene Dubois pada tahun 1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggir Bengawan Solo, tak jauh dari Ngawi (Madiun). Pithecanthropus Erectus diambil dari kata pithekos = kera, anthropus = manusia, erectus = berjalan tegak. Jadi Pithecanthropus Erectus artinya manusia-kera yang berjalan tegak. Jenis manusia ini menurut para ahli kemampuan berpikirnya masih rendah karena volume otaknya 900 cc, sedangkan volume otak manusia modern lebih dari 1000cc. Kemudian kalau dibandingkan dengan kera, volume otak kera tertinggi 600 cc. Jadi, jenis manusia purba ini belum mencapai taraf ukuran otak manusia modern. Diperkirakan jenis manusia ini hidup antara 1 juta-600.000 tahun yang lalu atau pada zaman paleolithikum (zaman batu tua).
Fosil sejenis Pithecantropus lainnya ditemukan oleh G.H.R Von Koenigswald pada tahun 1936 di dekat Mojokerto. Dari gigi tengkorak diperkirakan usia fosil ini belum melebihi usia 5 tahun. Kemungkinan tengkorak tersebut anak dari Pithecanthropus Erectus dan von Koenigswald menyebutnya dengan nama Pithecantropus Mojokertensis. Von Koenigswald di tempat yang sama menemukan fosil yang diberi nama Pithecantropus Robustus.

2.         Pithecanthropus Mojokertensis (Manusia kera dari Mojo)
Pada 1936, von Koenigswald di daerah Mojokerto menemukan fosil tengkorak anak-anak yang diperkirakan belum melewati usia 5 tahun. Diperkirakan fosil ini merupakan anak Pithecantropus Erectus. Fosil ini dinamakan Pithecanthropus Mojokertensis.

3.         Pithecanthropus Soloensis(Manusia kera dari Solo)
Sebelum menemukan Meganthropus palaeojavanicus, pada tahun 1931 Von Koenigswald juga berhasil menemukan tengkorak dan tulang kering yang mirip dengan Pithecanthropus erectus temuan Dubois. Fosil tersebut kemudian diberi nama Pithecanthropus soloensis berarti manusia kera dari Solo yang ditemukan di Sambungmacan dan Sangiran.
4.         Meganthropus Paleojavanicus (manusia besar dari zaman Batu di Jawa)
Pada tahun 1941, von Koeningwald di daerah menemukan sebagian tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari rahang Pithecanthropus. Geraham-gerahamnya menunjukkan corak-corak kemanusiaan, tetapi banyak pula sifat keranya. Von Koeningwald menganggap mahluk ini lebih tua daripada Pithecanthropus. Mahluk ini ia beri nama Meganthropuis Paleojavanicus (mega = besar), karena bentuk tubuhnya yang lebih besar. Diperkirakan hidup pada 2 juta sampai satu juta tahun yang lalu.

5.         Homo Soloensis (Manusia dari Solo)
Hampir bersamaan dengan penemuan Meganthropus palaeojavanicus, Von Koenigswald menemukan pula sebuah tengkorak manusia yang memiliki volume otak lebih besar dari manusia-manusia jenis Pithecanthropus. Struktur tengkorak manusia ini tidak mirip dengan kera. Karena itu, fosil ini diberi nama Homo soloensis yang artinya manusia dari Solo.

6.         Homo Wajakensis (manusia dari Wajak)
Fosil tengkorak manusia yang mirip dengan penemuan Von Koenigswald pernah pula ditemukan sebelumnya oleh seorang penambang batu marmer bernama B.D. Vonn Rietschotten pada tahun 1889. Fosil tersebut kemudian diteliti oleh Eugene Dubois dan diberi nama Homo wajakensis, artinya manusia dari Wajak.
7.         Homo Sapiens (Manusia Cerdas)
Homo Sapiens merupakan manusia yang paling maju dan paling cerdik. Homo Sapiens, artinya manusia yang cerdas. Homo Sapiens hidup pada masa Holosen dan memiliki bentuk fisik yang yang hampir sama dengan manusia zaman sekarang. Fosil ini ditemukan oleh Von Rietschoten pada tahun 1889, di Desa Wajak, Campur Darat, Tuluanggung, Jawa Timur.
Homo Sapiens yang terdapat di Indonesia sudah ada pada zaman Mesolithikum dan mereka sudah mengenal tempat tinggal secara menetap serta mengumpulkan makanan dan menangkap ikan. Kebudayaannya disebut kebudayaan Mesolithikum yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dari Indo-Cina (Vietnam).

INFORMASI
Perkampungan ”Pygmi” di Flores
Di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ditemukan sebuah perkampungan masyarakat pygmi atau katai. Apa keistimewaan perkampungan ini? Menurut para ahli arkeologi, perkampungan ini menyimpan sejumlah misteri. Saat tahun 2004 para ahli mempublikasikan temuannya tentang fosil manusia kerdil yang diberi nama Homo floresiensis, perkampungan ini luput dari perhatian mereka. Penelitian mereka hanya terfokus pada fosil dan beragam bentuk peninggalan yang ada di dalam gua Liang Bua.
Menurut Prof. Dr. Teuku Jacob, keberadaan masyarakat pygmi sangat menarik dan mengejutkan karena selama bertahun-tahun para ahli hanya berkutat dengan jejak manusia purba melalui fosil. Akan tetapi, tidak pernah terbayangkan bahwa di sekitar kawasan itu terdapat sebuah komunitas masyarakat katai yang hingga kini masih hidup dan bertahan. Mengapa mereka bisa hidup selama ribuan tahun tanpa pernah berpindah-pindah?
Kawasan Nusa Tenggara Timur memang telah menjadi objek penelitian para antropolog Belanda. Mereka berpendapat bahwa penduduk setempat mempunyai ukuran tinggi badan yang agak pendek. Menurut penelitian Biljmer tahun 1929 lebih dari 50 persen penduduk setempat memiliki ukuran tinggi badan sekitar 155–163 cm. Bahkan, menurut warga setempat, ada orang-orang bertubuh pendek dengan warna kulit kehitam-hitaman (Negrito) yang tinggal di perbukitan dan bersembunyi di gua-gua. Menurut Jacob, tinggi orang Negrito itu berkisar 155–163 cm maka sebutannya adalah pygmoid. Akan tetapi, masyarakat di Rampasasa itu adalah pygmi atau katai karena tinggi badan mereka di bawah 145 cm untuk laki-laki dewasa dan wanita dewasanya hanya sekitar 135 cm. Berat badan pria maksimal 40 kg dan wanitanya rata-rata 30 kg.
Perlu diketahui bahwa katai memang berbeda dengan kerdil. Istilah kerdil menunjukkan ukuran badan mengecil dengan proporsi rusak atau tidak beraturan, sementara itu katai ukurannya kecil secara proporsional. Pada akhir tahun 2004 Prof. Dr. R.P. Soejono dan Dr. M.J. Morwood melakukan penggalian di Liang Bua, Flores. Mereka menemukan tengkorak manusia dengan tinggi badan sekitar 130 cm dengan besar otaknya sepertiga manusia sekarang. Spesies inilah yang kemudian dikenal dengan Homo floresiensis atau Manusia Flores.

B.        Manusia Prasejarah di Asia, Afrika, dan Eropa
1.        Manusia Prasejarah di Asia
Penemuan fosil manusia zaman prasejarah di Asia antara lain terjadi di Peking. Namanya Homo erectus pekinensis, atau manusia Peking (disebut juga dengan nama manusia Beijing atau Sinanthropus Pekinensis). Ditemukan oleh Davidson Son Black dan Franz Waidenreich pada tahun 1929-1980 didalam gua Zhoukoudian (Choukoutien), dekat Beijing (Peking), Cina. Diduga fosil ini hidup pada 250.000-400.000 tahun yang lalau, pada zaman Pleistosen.

2.        Manusia Prasejarah di Eropa
Di benua Eropa, pada tahun 1856 diketemukan fosil manusia zaman prasejarah berupa tempurung kepala dan beberapa tulang anggota tubuh yang diberi nama Homo Neanderthalensis, oleh Rudolph Virchou. Tepatnya di Gua Neanderthal, dekat Dusseldorf. Diperkirakan mahluk ini hidup pada pertengahan alhir Pleistosen, ± 500.000 sampai 50.000 yang lalu. Pada tahun tahun 1868, ditemukan fosil Homo Cro-Magnon di gua Cro_Magnon dekat kota Les Eyzies. Ciri fisiknya mendekati manusia masa kini, umurnya sekitar 40.000-25.000 tahun yang lalu.

3.        Manusia Prasejarah di Afrika
Ditemukan fosil Homo Rhodesiensis di gua Broken Hill, Rhodesia (sekarang Zimbabwe) pada tahun 1924 oleh Robert Brom. Selain itu, ditemukan pula fosil Australopithecus Africanus di Taung dekat Vryburg, Afrika Selatan pada tahun 1924 oleh Raymond Dart.

REFLEKSI
Setelah mempelajari Bab ini, apakah kalian sudah memiliki kemampuan untuk menjelaskan jenis-jenis manusia prasejarah dengan berbagai ciri-cirinya? Apabila belum, apa yang harus kalian lakukan?

TUGAS
1.        Sebutkan jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia dan di luar Indonesia, penemu, tempat dan tahun penemuannya!

1 komentar:

  1. Thanks for sharing :)
    materinya sangat membantu..

    visit my page : http://erisoncs.student.ipb.ac.id

    BalasHapus